Kehadiran rintik hujan menjadi renungan disela waktu ketika ramadhan berkumpul bersama keluarga. Tapi tidak denganku. Aku harus menyusuri jalan sejauh kaki berjalan sembari membawa dagangan asonganku. Demi adikku, aku tidak pernah lelah.
"Horeee kakak pulang!", teriak adikku bahagia ketika melihatku sampai di rumah.
Dengan pekerjaanku sebagai pedagang asongan, aku tidak memiliki apapun untuk bisa dimakan dari hasil daganganku sendiri kecuali tumpahan beras yg ku temukan setiap kali aku ke pasar dan mengumpulkannya.
"Adek, kakak cuma punya beras aja, kakak ga bisa beli lauk pauk enak", ujarku sambil menundukkan kepala.
"Ngga apa-apa kakak, makan pake garam aja adek bersyukur koq", jawab adikku yang masih kecil dengan suara lembut.
Akupun memutuskan untuk berdagang hingga larut malam setiap hari demi adikku bisa makan lauk pauk agar gizinya terpenuhi. Hingga akhirnya aku tertabrak sebuah mobil yg menyebabkan semua daganganku tumpah. Namun mobil itu pergi tanpa rasa bersalah ataupun menolong. Rasa sakit akibat tabrakan tersebut membuatku sulit untuk bergerak untuk pulang namun aku tetap memaksakan. Ketika aku sampai di rumah, akupun akhirnya tumbang.
"Kakak kenapa ?", heran adikku sambil menangis.
Tak sempat aku mengucapkan sepatah katapun aku kehilangan kesadaran dan pingsan. Pagi harinya, akupun terbangun dan masih merasakan sakit yg begitu luar biasa pada dadaku akibat tabrakan semalam. Aku khawatir dengan penyakitku ini adikku akan jadi gelandangan sepertiku. Akupun memiliki firasat bahwa kehidupanku mungkin tidak lama lagi. Jadi aku berfikir untuk mengantarkan adikku ke panti asuhan dan berkemas pakaian.
"Kakak, kita mau kemana ?", tanya sang adik.
"Nanti adek tau koq. Adek ga perlu khawatir", jawabku dengan senyum palsu
Setibanya di panti asuhan, aku mendaftarkan adikku di panti Asuhan itu. Lalu adikku bertanya,
" Apa kakak mau pergi ninggalin adek ?"
"Adek dengerin kakak, adek harus sekolah, berpendidikan layak supaya sukses dewasa nanti, kakak pasti akan kesini lagi koq", jawabku.
Dengan tangis aku dan adikku harus berpisah, dan melakukan ini untuk kebaikan adikku. Meskipun adikku menangis dan tidak mau ditinggal tapi aku tetap harus melalukannya. Setibanya di rumah, aku coba memaksakan diri untuk pergi memulung karena semua daganganku rusak.
Tepat malam 1 Syawal, aku merasa lelah berjalan amat jauh sambil menahan sakit di dadaku yg masih terasa akibat tabrakan dengan mobil. Akupun pergi menyusuri trotoar jalan. Banyak sekali orang berbahagia dengan idul fitri. Aku melihat banyak orang berkumpul bersama keluarga, dan bersuka cita.
"Ayah, ibu, maafin aku, aku mungkin akan nyusul ayah dan ibu. Aku ingin bisa seperti mereka yg bersuka cita. Tapi apalah dayaku ?", di sela-sela lamunanku ketika duduk di samping trotoar jalan.
Hingga aku tertidur dengan nafas terengal-engal, aku sudah tidak kuat. Dengan kalimat terakhir,
"Laa ilaaha illalloh, muhammadur rosuululloh"
Ketika pagi hari, orang-orang ramai mendatangi masjid untuk melaksanakan ibadah sholat 'ied. Ada seseorang bapak-bapak yg menemukan jasad anak jalanan tersebut. Kematian anak tersebut menjadi sorotan orang-orang yang berjalan melewati. Dengan derai air mata kerumunan orang yg melihat jasad anak ini beramai-ramai patungan untuk memakamkan anak ini dengan layak.
Inilah kisah seorang anak jalanan tanpa kedua orang tua. Ia meninggal tepat malam 1 Syawal dimana seharusnya ia bahagia, tetapi ia wafat di tempat yang tidak layak yaitu disamping trotoar jalan. Meninggalkan seorang adik yang masih kecil dan belum mengerti kehidupan.
Terkadang kerasnya kehidupan membuat kita berfikir bahwa hidup itu mahal. Hingga membuat kita lupa untuk saling berbagi dengan orang yang tidak mampu. Zaman dimana mahalnya kebaikan, membuat kita lupa dengan nasib orang-orang seperti mereka.
By : Andy
Cerita Fakta Inspiratif

Tidak ada komentar:
Posting Komentar